Belajar Memahami Apa Itu Investasi Reksadana Untuk Pemula (Langsung Mahir)

  • Whatsapp
Merencanakan investasi di reksadana
Merencanakan investasi di reksadana

Jika dibandingkan dengan beberapa tahun ke belakang, kini investasi reksadana sudah banyak dikenal oleh masyakarat luas. Peranan pihak-pihak terkait seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Manajer Investasi dan juga beberapa marketplace reksadana online dalam memperkenalkan dan memasarkan salah produk pasar modal bernama reksadana patut diacungi jempol.

Jauh berbeda dibandingkan awal tahun 2010an dimana reksadana masih dianggap produk investasi yang eksklusif sekaligus mahal dan hanya untuk kalangan masyarakat yang mampu secara finansial. Namun, masih ada sebagian masyarakat yang masih belum memahami tentang apa itu investasi reksadana.

Berikut Margin.id akan merangkum dan memberikan penjelasan sekaligus pencerahan belajar memahami apa itu reksadana untuk pemula sebagai tambahan referensi Anda.

Inflasi di Indonesia

Perlu Anda ketahui bahwa alasan berinvestasi selain untuk menghasilkan keuntungan, juga untuk menjaga agar aset yang dimiliki tidak tergerus oleh inflasi. Mengingat inflasi selalu ada dari tahun ke tahun dan membuat nilai asset yang dimiliki semakin berkurang.

Mengutip data dari Bank Indonesia, berikut data inflasi di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir:

Tabel Data Inflasi Indonesia 10 Tahun Terakhir

TahunInflasiNilai Uang Rp1 juta BerkurangAkumulasi Nilai Uang Rp1 juta Bertambah
20092,78%Rp972.200Rp1.027.800
20106.96%Rp904.534Rp1.099.334
20113.79%Rp870.253Rp1.140.999
20124.30%Rp832.832Rp1.190.062
20138.36%Rp763.207Rp1.289.551
20148.36%Rp699.403Rp1.397.358
20153.35%Rp675.973Rp1.444.169
20163.02%Rp655.558Rp1.487.783
20173.61%Rp631.893Rp1.541.492
20183.13%Rp612.114Rp1.589.741
20193.10%
(target)
Rp593.139Rp1.639.023

Inflasi tahun 2019 ditargetkan sebesar 3,1%, jika digambarkan ke dalam chart akan seperti ini:

Perhatikan data tersebut, terlihat bahwa nilai uang tergerus inflasi setiap tahunnya. Jika Anda memiliki uang Rp1 juta pada tahun 2009 lalu, kini nilainya hanya sebesar Rp593.139 saja. Dan uang Rp1 juta pada tahun 2009 jika dibandingkan sekarang menjadi sebesar Rp1.639.023.

Sering kita dengar jika dahulu dengan uang Rp100.000 saja Anda mampu belanja apapun, namun sekarang dengan uang Rp100.000 barang yang dibeli semakin terbatas, ini disebabkan oleh kenaikan inflasi.

Data inflasi menjadi acuan bagi sektor-sektor usaha untuk menjaga selisih keuntungan yang didapat dan tentu profit tersebut harus melebihi tingkat inflasi saat ini.

Lalu bagaimana cara masyarakat atau individu seperti kita, mengatasi hal itu?yakni dengan cara berinvestasi. Ada banyak jenis investasi yang beredar salah satunya yaitu investasi reksadana, reksadana merupakan salah satu instrumen produk investasi di pasar modal selain saham.

Reksadana lebih mudah dipelajari dan dipahami oleh investor pemula dan dapat dikatakan bahwa reksadana adalah pintu gerbang calon investor untuk mulai berinvestasi di pasar modal.

Pemilihan reksadana sebagai kendaraan berinvestasi untuk pemula adalah hal yang tepat sebelum mengenal dan memilih berbagai macam investasi lain seperti saham, obligasi, forex, dan derivatif lainnya.

Apa Itu Reksadana dan Cara Kerjanya?

Jika Anda pernah mengikuti program arisan di lingkungan Anda bersama teman atau kerabat, tentu Anda akan mudah memahami cara kerja reksadana. Mengacu dari cara kerja arisan dimana masing-masing anggota akan  mengumpulkan sejumlah dana dalam waktu yang telah disepakati, lalu dana tersebut akan disimpan oleh bendahara arisan sampai saat pengumuman pemenang.

Uang arisan yang diterima pada saat pengumuman pemenang biasanya jumlahnya tetap karena dana yang terkumpul sebelumnya tidak dikembangkan dan cenderung seperti Anda menabung saja. Berbeda dengan di reksadana, dana yang terkumpul nantinya akan dikembangkan atau dikelola.

Secara umum, reksadana adalah wadah dari kumpulan dana investor yang nantinya dana tersebut akan dikelola oleh pihak Manajer Investasi (MI). MI akan mengelola dana tersebut dengan cara diinvestasikan ke dalam portofolio efek seperti saham dan obligasi. Hasil dari pengelolaan dana ke portofolio efek saham dan obligasi inilah yang nantinya akan menghasilkan keuntungan atau bisa juga kerugian bagi investor reksadana.

Keuntungan dan Kerugian Reksadana

Perlu diingat bahwa produk investasi akan selalu memiliki potensi untung dan rugi. Begitu juga di reksadana, reksadana adalah produk investasi yang dapat menghasilkan keuntungan juga dapat memberikan kerugian bagi para investor. Jika Anda ingin mencari produk investasi yang dapat memberikan keuntungan tanpa ada risiko rugi, sayangnya produk investasi seperti itu belum ada.

Keuntungan berinvestasi di reksadana salah satunya dapat memberikan potensi keuntungan yang tinggi. Sedikit berbeda dengan investasi langsung ke saham dimana Anda harus memikirkan analisa fundamental dan teknikal serta memperhatikan info pasar terkini untuk mengambil keputusan yang tepat.

Di reksadana semua tugas itu sudah ditangani oleh MI dan Anda dapat fokus dengan pekerjaan utama Anda. Jadi dengan berinvestasi di reksadana, Anda seperti memiliki asisten pribadi.

Keuntungan lain jika Anda berinvestasi di reksadana adalah minimum investasinya yang relatif terjangkau, hanya dengan dana Rp10.000 saja Anda sudah dapat berinvestasi di reksadana.

Selain dapat menghasilkan untung, Anda juga perlu mengetahui risiko berinvestasi di reksadana. Harga reksadana atau biasa disebut dengan NAV/Unit sewaktu-waktu dapat berubah, bisa di bawah harga saat Anda membeli reksadana atau di atas harga pada saat Anda beli, seperti Anda membeli emas logam mulia yang setiap hari harganya berubah. Namun jangan khawatir, besaran risiko kerugian investasi pada produk reksadana masih bisa ditolerir dengan cara memilih jenis reksadana yang sesuai dengan profil risiko Anda.

Risiko lain jika Anda berinvestasi di reksadana adalah likuiditas produknya yang membutuhkan waktu sedikit lama, misalnya, jika Anda ingin mencairkan reksadana butuh proses selama 7 hari kerja, namun pada prakteknya dana akan masuk ke dalam rekening Anda hanya dalam 3-4 hari kerja saja, apalagi jika Anda membeli reksadana jenis pasar uang yang waktu pencairannya hanya membutuhkan +1 hari kerja saja.

Pilar-Pilar Reksadana

Dalam industri reksadana ada beberapa pilar yang terlibat yang perlu Anda ketahui. Siapa sajakah pilar-pilar reksadana? Di antaranya, Manajer Investasi, Bank Kustodian, Otoritas Jasa Keuangan, dan Agen Penjual Reksadana. Kita bahas satu persatu.

Manajer Investasi (MI)

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Manajer Investasi (MI) adalah pihak pengelola dana reksadana. Dana yang sudah terkumpul dalam suatu produk reksadana selanjutnya akan dikelola oleh MI ke portofolio efek saham dan obligasi, tergantung dari jenis reksadananya.

Jika Anda berpikir MI adalah perorangan atau individu, tentu bukan. Manajer Investasi adalah istilah atau sebutan lain untuk perusahaan yang meluncurkan dan menjual produk investasi reksadana. Biasanya nama-nama perusahaan MI memakai tambahan nama belakang “Asset Management”. Seperti jika Anda ingin menabung Anda pergi ke “Bank”, Anda ingin mengajukan pinjaman Anda mengunjungi perusahaan “Finance”, jika ingin membeli produk asuransi, Anda datang ke perusahaan “Life”, atau jika Anda ingin membeli saham, Anda mengunjungi perusahaan “Sekuritas”. Jadi, Anda ingin berinvestasi reksadana? Anda bisa membelinya di perusahaan “Asset Management”.

Dalam mengelola dana reksadana, MI memiliki kelebihan untuk mengakses informasi dibandingkan investor individu, profesional dalam memantau dan menganalisa pergerakan pasar sehingga dapat melakukan keputusan investasi yang tepat, juga memiliki lisensi resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengelola dana investor.

Bagaimana jika Manajer Investasi bermasalah atau bangkrut?

Di reksadana, ada peraturan tentang batas minimum dana kelolaan. Jika dahulu minimum dana kelolaan reksadana adalah Rp25 miliar rupiah, kini batasan minimum dana kelolaan suatu reksadana adalah Rp10 miliar, dan pihak OJK akan memberikan peringatan kepada MI yang bermasalah jika batas minimum dana tersebut tidak terpenuhi.

Dalam tempo 60 sampai dengan 90 hari kerja pihak MI harus segera melakukan recovery, berusaha mencapai dana kelolaan reksadana tadi (Rp10 miliar). Jika dalam batas waktu tersebut MI tidak mampu memenuhinya, reksadana tersebut akan dialihkan ke MI lain atau reksadana tersebut dibubarkan dan dana investor akan dikembalikan sesuai dengan harga reksadana terakhir.

Bank Kustodian

Ilustrasi BankKustodian
Ilustrasi Bank Kustodian

Masih menggunakan pola arisan tepatnya bendahara arisan, perlu Anda ketahui bahwa dana kelolaan reksadana akan ditempatkan atau dititipkan di Bank Kustodian dan bukan di MI. Bank Kustodian bertindak sebagai pihak administrator. Bank Kustodian berkewajiban untuk mengadministrasikan seluruh transaksi reksadana.

Bank Kustodian sebenarnya adalah bank umum yang biasa Anda lihat contohnya seperti Bank BCA, BRI, Mandiri, Citibank dan sebagainya. Bedanya, Bank Kustodian memiliki izin dari OJK dalam memberikan jasa penitipan dana reksadana. Bank Kustodian juga tidak boleh terafiliasi dengan MI. Anda tidak akan menemukan produk reksadana dimana pihak Manajer Investasi dan Bank Kustodian berada dalam afiliasi satu perusahaan yang sama. Contohnya, produk reksadana milik MI BNI Asset Management tidak diperbolehkan menunjuk Bank BNI sebagai Bank Kustodian, atau, reksadana milik MI Panin Asset Management tidak diperbolehkan menunjuk Bank Panin sebagai Bank Kustodiannya.

Bagaimana jika Bank Kustodian bangkrut?

Anda tidak perlu khawatir, tidak seperti tabungan Anda di Bank, dana kelolaan reksadana yang dititipkan ke Bank Kustodian bukanlah aset bank tersebut, jadi dana Anda aman. Pihak OJK akan segera bertindak dan mengalihkan dana kelolaan reksadana tersebut ke Bank Kustodian lain jika hal ini terjadi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Otoritas Jasa Keuangan OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Fungsi OJK dalam industri reksadana, tentunya sebagai regulator atau “wasit” yang memiliki fungsi, tugas, wewenang, pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyelidikan reksadana.

Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD)

Selain Manajer Investasi sendiri yang melakukan pemasaran dan penjualan produk reksadana miliknya. Produk reksadana milik MI juga bisa didistribusikan oleh pihak Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) untuk dipasarkan via platformnya masing-masing.

Dapat dikatakan produk reksadana selain dapat dibeli via MI itu sendiri, juga dapat dibeli di bank yang memiliki lisensi APERD, dan tidak hanya bank saja yang dapat mengajukan dan mendapatkan izin APERD, perusahaan sekuritas, perusahaan asuransi, atau perusahaan pembiayaan juga dapat menjual produk reksadana. Produk yang dijual pun berasal dari macam-macam MI.

Seiring waktu, distribusi media pemasaran produk reksadana semakin mengikuti zaman, perkembangan teknologi juga ikut berkontribusi dalam memajukan industri investasi reksadana. Hal terbesar yang mengubah industri reksadana semakin pesat adalah cara membeli reksadana yang kini bisa online. Peraturan OJK tentang prinsip mengenal nasabah melalui pengisian formulir Know Your Profile (KYC) ketika ingin membeli reksadana dan harus dibubuhi tanda tangan basah, kini sudah dapat dilakukan secara online.

Hadirnya supermarket reksadana online seperti IPOT Fund, Bareksa, Bibit, TanamDuit, Moduit membuat produk reksadana semakin dikenal luas, program BukaReksa milik Bukalapak dan Reksadana Tokopedia ( kedua marketplace ini bekerja sama dengan bareksa sebagai APERDnya) membuat jumlah investor reksadana di Indonesia melonjak drastis. Ditambah industri bisnis e-wallet seperti Doku dan OVO Invest (Bareksa juga bertindak sebagai APERD di kedua e-wallet ini) juga mulai memasarkan produk investasi reksadana.

Investor Reksadana

Investor reksadana tidak hanya untuk individu,  beberapa perusahaan seperti perusahaan asuransi, dana pensiun, unit link juga menempatkan dana kelolaannya ke dalam reksadana dan tentu dari segi modal investasi jauh lebih besar dibandingkan dengan investor ritel atau individu. Namun, persentase potensi imbal hasil dan kerugian yang diterima antara investor institusi dengan investor ritel adalah sama. Jika suatu produk reksadana untung 10% setahun, maka investor institusi dan ritel akan mendapatkan persentase yang sama yakni 10%, begitu juga sebaliknya.

Dengan minimum investasi di reksadana yang kini semakin murah hanya Rp10.000, membuat reksadana sudah bukan lagi produk eksklusif yang hanya mampu dibeli oleh pemodal besar. Semakin terjangkaunya minimum investasi di reksadana tentu dapat memfasilitasi calon investor dari berbagai kalangan untuk mulai berinvestasi di reksadana.

Jenis-Jenis Reksadana

Anggap Anda sudah mulai tertarik dan ingin membeli salah satu produk reksadana di marketplace reksadana online, namun Anda dibuat bingung dengan banyaknya produk reksadana yang disuguhkan karena biasanya, ada lebih dari 100 produk reksadana yang ditawarkan disana. Anda juga dipusingkan dengan apa itu jenis-jenis reksadana pada kolom filter di marketplace reksadana online tersebut.

Alasan reksadana dikelompokkan berdasarkan jenisnya agar Anda mengetahui jenis dan produk reksadana mana yang sesuai dengan profil risiko Anda dan juga sesuai dengan tujuan investasi masing-masing calon investor. Profil risiko masing-masing investor berbeda-beda, karyawan usia muda tentu memiliki profil risiko dan tujuan investasi yang berbeda dengan pensiunan.

Ada banyak jenis reksadana namun Anda saat ini cukup mengetahui 4 jenis reksadana yang biasa diperjualbelikan saja. 4 jenis reksadana yang dikelompokkan berdasarkan tingkat keuntungan dan kerugiannya, di antaranya:

Reksadana Saham

Disebut jenis reksadana saham, karena dari 100% dana kelolaan yang ada, minimum 80% akan dialokasikan ke portofolio atau instrumen efek saham. Jadi MI akan mengelola dana reksadana tersebut minimum 80% ke saham. Reksadana saham merupakan jenis reksadana yang paling tinggi tingkat risikonya namun berbanding lurus dengan potensi keuntungan yang dihasilkan.

Berikut ciri-ciri reksadana saham:

  • Minimum 80% dari dana kelolaan reksadana akan diputar atau dikelola ke efek saham
  • Mampu menghasilkan potensi keuntungan yang besar, biasanya lebih dari 15 persen setahun.
  • Termasuk jenis reksadana yang berisiko tinggi.
  • Idealnya investasi di reksadana jenis saham adalah lebih dari 5 tahun.
  • Cocok untuk investor tipe risk taker.
  • Nama produk reksadana pada jenis reksadana saham biasanya memiliki akhiran Equity atau Saham.

Reksadana Campuran

Reksadana jenis campuran sering juga disebut hybrid funds karena dana kelolaan akan dialokasikan maksimal 79% ke efek saham atau obligasi. Karena sifatnya yang hybrid atau “serba tanggung” yaitu campuran saham dan obligasi, kinerjanya sedikit lebih baik dari reksadana pendapatan tetap namun juga tidak melebihi kinerja reksadana saham.

Berikut ciri-ciri reksadana campuran:

  • Dari 100% dana kelolaannya, maksimal 79% akan dialokasikan ke efek saham atau obligasi.
  • Termasuk jenis reksadana dengan risiko menengah karena sifatnya yang hybrid
  • Cocok untuk calon investor yang ingin menjadikan jenis reksadana ini sebagai pembanding antara kinerja reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap.
  • Idealnya investasi di reksadana jenis campuran antara 3-4 tahun dengan potensi keuntungan antara 12-13% setahun.
  • Nama produk reksadana pada jenis reksadana campuran biasanya memiliki akhiran Campuran, Berimbang atau Balanced

Reksadana Pendapatan Tetap

Kebalikan dari reksadana jenis saham, reksadana pendapatan tetap akan menempatkan dana kelolaannya minimum 80% ke efek obligasi. Reksadana pendapatan tetap juga biasa disebut reksadana obligasi.

Berikut ciri-ciri reksadana pendapatan tetap:

  • Dari 100% dana kelolaan, minimum 80% oleh MI akan dialokasikan ke obligasi.
  • Risiko investasi di reksadana jenis pendapatan tetap tergolong kecil.
  • Cocok untuk calon investor dengan tipe konservatif yang menginginkan risiko tidak terlalu besar. Anda sebagai seorang pensiunan dan membutuhkan perputaran dana yang cepat atau ingin menggunakan modal Anda sewaktu-waktu, cocok mengambil jenis reksadana ini.
  • Idealnya jangka waktu investasi antara 1-2 tahun saja dengan potensi imbal hasil atau keuntungan sebesar 10-11% setahun.
  • Nama produk reksadana pada jenis reksadana pendapatan tetap biasanya memiliki akhiran Fixed Income atau Pendapatan Tetap.

Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang merupakan jenis reksadana yang paling minim risikonya dan memberikan kinerja yang stabil. Reksadana pasar uang cocok bagi Anda yang belum berani mengambil risiko tinggi untuk menginvestasikan dana Anda ke jenis reksadana lain namun ingin mendapatkan imbal hasil atau keuntungan lebih dari yang Anda dapatkan dari deposito. Dana kelolaan reksadana pasar uang 100% akan ditempatkan ke surat hutang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun, termasuk didalamnya seperti obligasi dan deposito.

Berikut ciri-ciri reksadana pasar uang:

  • 100% dana kelolaan akan ditempatkan ke efek hutang dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun, seperti obligasi dan deposito.
  • Reksadana pasar uang adalah jenis reksadana dengan risiko paling minim dan stabil.
  • Idealnya jangka waktu penempatan dana atau investasi yakni 1 tahun.
  • Menjadi wadah alternatif untuk menabung.
  • Nama produk reksadana pada jenis reksadana pasar uang biasanya memiliki akhiran Liquid, Money Market atau Kas.

Jika dana kelolaan reksadana pasar uang sama-sama ditempatkan ke deposito, lantas apa perbedaan reksadana pasar uang dibandingkan dengan Anda invest langsung ke deposito?

Perbedaannya adalah terletak pada mekanisme perolehan keuntungan. Ketika Anda invest langsung ke deposito, Anda baru akan memperoleh keuntungan setelah jangka waktu periodik sebulan sekali, di reksadana pasar uang keuntungan didapat berdasarkan perubahan harga unit reksadana, seperti halnya harga emas yang setiap hari mengalami perubahan harga.

Potensi imbal hasil atau keuntungan menabung di reksadana pasar uang biasanya 1 atau 2 persen lebih tinggi dibandingkan Anda menabung di deposito. Pendapatan bunga dari deposito juga masih harus dipotong pajak 20%, berbeda dengan pendapatan return dari reksadana pasar uang yang tidak dikenakan biaya apapun lagi. Jika Anda menabung di reksadana dan mendapatkan return 6-7 persen dalam setahun, kemudian Anda berencana untuk mencairkannya, keuntungan yang didapat sudah bersih (nett) dan tidak dikenakan biaya apapun lagi.

Jika Anda ingin mencairkan dana deposito Anda sebelum jatuh tempo, Anda akan dikenakan penalti, berbeda dengan di reksadana pasar uang, jangka waktu investasi di reksadana lebih fleksibel, dana Anda bisa dicairkan kapan saja dan tidak dikenakan biaya. Seperti Anda menyimpan dana di tabungan bukan?

Minimum penempatan dana di reksadana pasar uang relatih lebih terjangkau dibandingkan Anda menempatkan dana ke deposito. Hanya dengan Rp10.000 Anda sudah dapat membeli reksadana, di deposito Anda membutuhkan dana minimal Rp5 juta.

Mengapa return reksadana pasar uang bisa lebih tinggi dibandingkan deposito, padahal alokasi portofolio reksadana pasar uang dominan ditempatkan ke deposito?

Jika Anda sebagai individu memiliki dana sebesar Rp10 juta dan berencana menyimpan dana tersebut ke deposito. Ketika Anda mengunjungi Bank, pihak Bank akan menawarkan atau memberikan rate bunga deposito normal.

Jika Manajer Investasi memiliki jumlah dana kelolaan reksadana misal Rp100 miliar, dan akan menempatkan dana tersebut ke deposito, tentu pihak Bank akan memberikan rate bunga spesial.

Perbandingan Kinerja Jenis-Jenis Reksadana

Setelah Anda mengetahui jenis-jenis reksadana, agar semakin mudah dipahami, berikut ini contoh masing-masing kinerja suatu produk reksadana sesuai dengan jenisnya. Untuk informasi, Margin.id menggunakan data pada situs Bareksa. Data yang digunakan berdasarkan kinerja 4 produk reksadana dalam waktu 5 tahun terakhir. Pemilihan nama-nama produk hanyalah sebagai sampel dan mewakili masing-masing jenis reksadana demi mendukung penjabaran informasi.

Berikut ini kinerja real masing-masing produk reksadana dalam 5 tahun terakhir (8 Desember 2014 – 6 Desember 2019).

Nama ProdukJenis ReksadanaReturn 5 TahunReturn Rata-Rata per Tahun
Sucorinvest Equity FundReksadana Saham77,38 %15,47%
HPAM Flexi PlusReksadana Campuran63,04 %12,68%
Syailendra Fixed Income FundReksadana Pendapatan Tetap47%9,4%
Reksa Dana Mega Dana KasReksadana Pasar Uang38,74 %7,75%

Pada tabel diatas, terlihat beberapa kinerja produk reksadana yang mewakili masing-masing jenis reksadana. Terlihat ada perbedaan imbal hasil atau persentase keuntungan yang didapat dari masing-masing reksadana tersebut.

Di antara empat produk tersebut, Sucorinvest Equity Fund yang masuk ke dalam reksadana jenis saham memiliki keuntungan paling tinggi selama 5 tahun terakhir yakni 77,38%, atau jika dirata-ratakan per tahun sebesar 15,47%. Begitu juga Reksa Dana Mega Dana Kas yang masuk ke dalam jenis reksadana pasar uang, produk tersebut menghasilkan keuntungan sebesar 38,74% dalam 5 tahun terakhir atau jika dirata-ratakan per tahun sebesar 7,75% nett.

Perhatikan juga tingkat volatilitas naik turunnya harga reksadana pada pada masing-masing produk tersebut, seperti yang terlihat pada gambar berikut:

Perbandingan Jenis Reksadana

Sesuai dengan pembahasan sebelumnya tentang jenis-jenis reksadana, terlihat jelas pergerakan reksadana saham Sucorinvest Equity Fund ( garis warna oranye) sangat berbeda dibandingkan dengan pergerakan reksadana pasar uang Mega Dana Kas (garis warna hitam) yang begitu stabil.

Reksadana saham memiiki tingkat volatilitas yang tinggi disebabkan karena sebagian besar portofolionya ditempatkan di efek saham, reksadana saham memiliki potensi keuntungan yang tinggi namun berbanding lurus dengan tingkat risiko yang dihasilkan, high risk high return.

Inilah alasan mengapa investor pemula disarankan untuk memilih produk reksadana pasar uang sebagai langkah awal dalam berinvestasi di reksadana. Walaupun keuntungan yang dihasilkan tidak sebesar reksadana saham, namun lebih stabil pergerakannya dan risikonya lebih kecil, low risk low return. Reksadana pasar uang bisa menjadi alternatif Anda untuk mulai menabung di reksadana, apalagi return yang didapat bisa lebih tinggi dari bunga deposito.

Jenis reksadana yang Anda pilih menentukan seberapa besar potensi keuntungan yang akan dihasilkan. Jika Anda menginginkan profit yang besar dan tujuan investasi Anda untuk jangka panjang, Anda dapat memilih reksadana jenis saham. Jika Anda menginginkan keuntungan yang stabil per tahun, Anda bisa menggunakan produk reksadana pasar uang sebagai kendaraan investasi Anda untuk mencapai tujuan.

Simulasi Transaksi Reksadana

Jika Anda belum memahami bagaimana cara mengetahui investasi Anda di reksadana sedang untung atau rugi, seperti ini simulasinya.

Namun sebelumnya, tentu Anda sudah mengetahui satuan unit seperti, per kilo, per meter, per box, per gram bukan? Di reksadana juga terdapat istilah seperti itu, biasa disebut dengan Nett Asset Value per unit atau disingkat NAV/unit.

Berbeda dengan istilah Nett Asset Value (NAV) yang mencerminkan total dana kelolaan reksadana. NAV/unit mencerminkan harga per unit suatu produk reksadana, jika Anda pernah membeli unitlink tentu familiar dengan istilah tersebut.

Ketika Anda membeli reksadana, Anda akan mendapatkan sejumlah unit reksadana yang jumlahnya sesuai dengan modal investasi yang Anda setor dibagi dengan harga reksadana atau NAV/unit pada hari pembelian. Unit reksadana yang Anda terima bukan berupa unit fisik berupa lembaran kertas yang tebal melainkan hanya laporan data transaksi saja yang di dalamnya tertera jumlah unit yang Anda beli.

Berikut ini contoh simulasi transaksi reksadana :

Pada tanggal 5 Januari 2019, Anda memiliki dana sebesar Rp 1 juta, kemudian Anda menggunakan dana tersebut untuk membeli Reksadana A dan pada saat itu harga reksadana atau NAV per unit Reksadana A sebesar Rp1000 per unit.

Cara menghitung jumlah unit reksadana yang Anda terima seperti ini:

Modal awal pembelian dibagi NAV per unit:

Rp1 juta : Rp1000 = 1000 unit, sekarang Anda sudah memiliki unit reksadana A sebanyak 1000 unit.

Setelah 3 bulan atau pada tanggal 6 Maret 2019, Anda berencana untuk mencairkan seluruh unit reksadana A yang Anda miliki (1000 unit). Saat itu NAV per unit reksadana A naik menjadi Rp1500 per unit.

Cara menghitungnya, unit reksadana A yang Anda miliki dikalikan NAV per unit pada hari pencairan.

1000 unit : Rp1500 = Rp1.500.000

Dana Anda yang tadinya Rp1 juta kini menjadi Rp1,5 juta, ada keuntungan sebesar Rp500 ribu.

Seperti itu cara kerja transaksi reksadana, berlaku juga ketika reksadana yang Anda beli sedang harganya sedang turun.

Contoh lain, agar Anda semakin mudah, kita berandai-andai, kali ini menggunakan pola transaksi jual beli emas logam mulia.

Misal, Anda memiliki dana Rp5 juta, kemudian dana tersebut Anda investasikan ke emas logam mulia yang pada saat itu harga per gram logam mulia sebesar Rp 500 ribu per gram.

Berapa gram emas logam mulia yang Anda dapatkan?

Rp5 juta : Rp 500 ribu = 10 gram

Anda sudah menukar dana Rp5 juta tadi dan mendapatkan emas fisik 10 gram.

1 Bulan kemudian, harga emas naik menjadi Rp600 ribu per gram, diatas harga beli ketika Anda membeli emas (Rp500 ribu per gram). Apakah otomatis Anda mendapatkan untung?Jawabannya, belum.

Atau 1 bulan kemudian, harga emas ternyata turun menjadi Rp400 ribu per gram, jauh di bawah ketika Anda membeli emas (Rp500 ribu per gram). Apakah otomatis Anda rugi? Jawabannya tentu saja belum.

Anda belum mendapatkan untung atau rugi dikarenakan Anda belum menjual emas fisik 10 gram yang Anda miliki.

Sama halnya seperti Anda membeli reksadana, yang Anda dapatkan adalah jumlah unit, biasa disebut juga dengan Unit Penyertaan.

Ingat, kerugian dan keuntungan baru akan terealisasi jika Anda sudah melakukan proses jual atau pencairan. Selama Anda masih memiliki Unit Penyertaan, harga reksadana bergerak kemanapun Anda masih memegang Unit Penyertaan tersebut.

Seperti emas, harga mau bergerak naik atau turun, potensi profit atau loss tidak akan terjadi jika Anda belum menjual emas fisik tersebut.

Sampai disini paham?

Cut Off Time Reksadana

Perhatikan juga tentang cut off time reksadana atau batas waktu transaksi jual beli reksadana. Jika harga emas logam mulia fisik selalu berubah dan diumumkan setiap pukul 8-9 pagi, di reksadana, NAV per unit atau harga reksadana akan diumumkan ke esokan harinya.

Contoh, pada hari Selasa, 10 Desember 2019 harga emas logam mulia berada di Rp743.000 per gram. Anda yang ingin membeli emas pada tanggal 10 Desember 2019 akan menggunakan harga acuan tersebut.

Di tanggal yang sama, harga reksadana yang tertera merupakan harga hari kemarin (9 Desember 2019). Dan harga reksadana per tanggal 10 Desember 2019 baru akan terlihat pada keesokan harinya (11 Desember 2019), ada delay 1 hari.

Ini berhubungan dengan cara kerja cut off time reksadana, batas waktu transaksi di reksadana adalah pukul 12 siang.

Jika Anda membeli atau menjual unit reksadana sebelum pukul 12 siang, otomatis Anda akan menggunakan harga reksadana per tanggal 10 Desember yang harganya baru akan terlihat besok (11 Desember 2019).

Jika Anda membeli atau menjual reksadana setelah pukul 12 siang, di sore hari misalnya. Harga acuan reksadana yang akan dipakai adalah harga reksadana per tanggal 11 Desember 2019 yang baru akan terlihat harganya di tanggal 12 Desember 2019 atau lusa.

Biaya Reksadana

Manajer Investasi dan Bank Kustodian tentu memberikan waktunya untuk mengelola dan mengadministrasikan proses transaksi reksadana tidak secara cuma-cuma, selalu ada ongkos operasional disitu. Namun management fee atau biaya jasa MI dan Bank Kustodian tidak dibebankan langsung ke investor, melainkan dengan cara memotong langsung dari NAV atau total dana kelolaan suatu produk reksadana.

Besaran management fee setahun tiap produk reksadana berbeda-beda tergantung kesepakatan yang tertuang dalam prospektus dan fund fact sheet reksadana antara pihak MI dan Bank Kustodian yang disetujui oleh OJK.

Di reksadana juga ada biaya yang dibebankan langsung ke calon investor, diantaranya, biaya pembelian (subscription fee), biaya penjualan (redemption fee) dan biaya pengalihan reksadana (switching fee). Persentase biaya-biaya tersebut juga dapat Anda lihat pada profil produk reksadana ketika Anda ingin membelinya.

Contoh, di produk reksadana saham, ketentuan fee redemption seperti ini:

  • Pencairan reksadana sebelum 6 bulan (<6 bln) dikenakan fee 1% dari dana yang ingin dicairkan
  • Pencairan reksadana <1 tahun dikenakan fee 0,5% dari dana yang ingin dicairkan
  • Pencairan reksadana >1 tahun Anda dibebaskan dari fee redemption.

Ketentuan fee beli, jual dan switching tersebut tidak berlaku untuk jenis reksadana pasar uang, karena semuanya 0% atau bebas biaya.

Apakah investor dapat mencairkan seluruh reksadana yang dimiliki?

Anda dapat mencairkan seluruh dana, sebagian saja, atau profitnya saja (jika dirasa sudah untung). Jika Anda mencairkan reksadana sebagian atau profitnya saja, Unit Penyertaan yang Anda miliki akan berkurang sesuai dengan jumlah dana yang ingin dicairkan. Jadi cukup fleksibel, sesuaikan dengan kebutuhan Anda masing-masing.

Cara Membeli Reksadana

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, pembelian reksadana bisa dilakukan melalui MI langsung, Bank atau perusahaan lain yang memiliki izin menjual reksadana (APERD), atau juga bisa melalui Marketplace Reksadana Online.

Jika Anda membeli reksadana melalui MI langsung, Anda akan ditawarkan beragam produk reksadana miliki MI itu sendiri.

Jika Anda ke Bank atau instansi yang memiliki izin APERD, Anda bisa menanyakan produk reksadana dari MI apa saja yang dijual disana.

Jika lokasi Anda jauh dari kantor MI atau Bank, Anda dapat membeli reksadana secara online melalui Marketplace Reksadana Online.

Persyaratan untuk mulai membuka akun reksadana di tempat-tempat tersebut sama saja, cukup siapkan KTP dan mengisi beberapa form pendukung lainnya. Siapkan juga copy halaman pertama buku tabungan Anda untuk memastikan jika saat pencairan reksadana nanti dana benar-benar masuk ke alamat rekening Anda.

Untuk mekanisme pembelian reksadana online juga sudah dapat menggunakan digital signature atau tanda tangan elektronik. Ketika data yang diajukan sudah disetujui, Anda siap untuk mulai berinvestasi di reksadana.

Mulai Berinvestasi di Reksadana

Tidak ada kata terlambat untuk mulai berinvestasi, walaupun hanya Rp10 ribu atau Rp100 ribu, asalkan Anda disiplin dan konsisten, tentu hasil investasi Anda juga akan memberikan hasil yang memuaskan. Ditambah di masa yang akan datang, Anda akan menghadapi beban biaya yang harus dihadapi, merencanakan biaya pernikahan, umroh, pendidikan anak dan menghadapi masa pensiun.

Akan menjadi sedikit masalah jika pendapatan Anda hanya berasal dari gaji saja, dibutuhkan tambahan pemasukan lain dengan cara berinvestasi. Investasi di reksadana adalah salah satu kendaraan investasi untuk mencapai tujuan-tujuan Anda. Dibandingkan dana “menganggur” Anda hanya mengendap di tabungan saja, lebih baik dialihkan untuk berinvestasi di reksadana.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *