Ini Daftar Reksadana Terbaik dan Terburuk Bulan November

  • Whatsapp
Merencanakan investasi di reksadana
Merencanakan investasi di reksadana

Mengakhiri pekan terakhir di bulan November 2019, produk investasi reksadana menjadi salah satu pemberitaan yang menyita perhatian publik. Reksadana yang seharusnya menjadi alternatif berinvestasi dengan risiko yang kecil dan menjadi pintu gerbang pertama masyarakat awam untuk mulai berinvestasi di paper asset, justru mengalami sentimen negatif. Mulai dari kasus reksadana Narada Asset Manajemen sampai dengan reksadana Minna Padi Asset Management. Namun ditengah pemberitaan negatif tersebut, masih ada beberapa produk reksadana yang kinerjanya memuaskan selama periode bulan November. Ini dia daftar produk reksadana terbaik dan terburuk di Bulan November.

Sebagai catatan, data yang dipakai berdasarkan data reksadana di situs marketplace reksadana online Bareksa dan pemilihan produk reksadana juga berdasarkan produk reksadana yang bisa dibeli di Bareksa.

Read More

Reksadana Saham

Reksadana saham adalah produk reksadana dimana minimal 80 persen dari dana kelolaannya akan dialokasikan ke efek saham. Jenis reksadana ini adalah yang paling tinggi risikonya namun berbanding lurus dengan potensi keuntungannya. Calon investor dapat mengetahui kinerja reksadana saham tersebut baik atau buruk dengan cara membandingkannya dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks Reksadana Saham. IHSG menjadi acuan sebagai cerminan seluruh kinerja saham yang ada di bursa mengingat lebih dari 80 persen dana kelolaan reksadana saham dialokasikan ke efek saham. Lalu Indeks Reksadana Saham merupakan cerminan dari kinerja seluruh produk reksadana saham yang dijual, sama halnya seperti IHSG tadi.

Berdasarkan data Bareksa, tercatat ada lima produk reksadana saham terbaik dan terburuk sepanjang bulan November. Nama-nama besar Manajer Investasi seperti Manulife Asset Manajemen Indonesia, Schroder Investment Management Indonesia, dan Sinarmas Asset Management berhasil menempatkan produknya ke daftar reksadana saham terbaik bulan November.
Produk reksadana Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS menjadi produk reksadana jenis saham terbaik dengan imbal hasil minus 0,89 persen. Disusul oleh Simas Danamas Saham (-2,77%), Mega Asset Maxima (-3,58%), Reksa Dana Capital Optimal Equity (-3,84%) dan terakhir Schroder Dana Prestasi Plus (-3,9%). Meskipun minus, hasil ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan kinerja IHSG (Composite) yang selama bulan November melemah sebesar minus 4,29% dan Indeks Reksadana Saham yang mengalami penurunan tajam sebesar minus 10,32%.

NoNama ReksadanaReturn Sebulan
1 Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS 0,89%
2 Simas Danamas Saham -2,77%
3 Mega Asset Maxima-3,58%
4 Reksa Dana Capital Optimal Equity -3,84%
5 Schroder Dana Prestasi Plus -3,90%

Untuk 5 reksadana saham terburuk diisi oleh produk reksadana Narada Saham Indonesia dengan minus 58,53 persen, Aurora Dana Ekuitas (-34,59%), Minna Padi Pasopati Saham (-17,11%), HPAM Syariah Ekuitas (-13,08%), Manulife Saham SMC Plus (-10,74%). Khusus reksadana Narada Saham Indonesia, pihak Bareksa sampai harus menghentikan sementara proses pembelian produk tersebut namun investor tetap dapat melakukan proses penjualan produk seperti biasanya.

NoNama ReksadanaReturn Sebulan
1Narada Saham Indonesia-58,53%
2Aurora Dana Ekuitas-34,59%
3Minna Padi Pasopati Saham -17,11%
4 HPAM Syariah Ekuitas -13,08%
5 Manulife Saham SMC Plus -10,74%

Reksadana Campuran

Reksadana campuran adalah jenis reksadana yang menawarkan kombinasi portofolio antara saham, obligasi, dan pasar uang (deposito). Manajer Investasi akan mengalokasikan dana kelolaan investor ke efek tersebut dengan batasan alokasi tidak melebih 79 persen.Sebagai contoh, Manajer Investasi diperbolehkan mengalokasikan dana kelolaan ke efek saham sebesar 79 persen, atau ke obligasi 79 persen, dan dana sisanya ditempatkan ke efek lainnya sesuai dengan strategi investasi yang dipakai masing-masing Manajer Investasi. Reksadana campuran juga biasa disebut dengan hybrid funds dan menggunakan Indeks Reksadana Campuran sebagai pembanding kinerja.

Pada daftar 5 reksadana campuran terbaik, Schroder Dana Kombinasi berada di posisi pertama dengan imbal hasil sebesar 0,27 persen disusul oleh kedua produk reksadana milik BNP Paribas Asset Management yakni BNP Paribas Equitra dan BNP Paribas Spektra yang menempati posisi urutan kedua dan ketiga dengan imbal hasil masing-masing sebesar 0,08 persen dan minus 0,37 persen. Juga ada Cipta Syariah Balance yang menghasilkan imbal hasil minus 1,42 persen dan Mandiri Investa Aktif yang berada pada posisi paling buncit dengan imbal hasil minus 1,53 persen. Kelima produk reksadana tersebut mampu mengungguli Indeks Reksadana Campuran.

NoNama ReksadanaReturn Sebulan
1 Schroder Dana Kombinasi 0,27%
2 BNP Paribas Equitra 0,08%
3 BNP Paribas Spektra -0,37%
4 Cipta Syariah Balance -1,42%
5 Mandiri Investa Aktif -1,53%

Selain Narada Saham Indonesia (reksadana saham) tadi, Narada Campuran 1 milik Narada Aset Manajemen kembali menempatkan produk reksadananya ke urutan pertama daftar 5 reksadana campuran terburuk sepanjang bulan November 2019 dengan kinerja minus 57,88 persen. Diduga alokasi aset kedua reksadana Narada tersebut ditempatkan ke saham lapis kedua dimana volatilitas saham-saham tersebut termasuk tinggi. Berada di urutan kedua yakni MNC Dana Kombinasi dengan kinerja minus 8,61 persen, Prospera Balance diurutan ketiga dengan kinerja minus 8,4 persen, diikuti oleh TRAM Alpha dan Bahana Dana Infrastruktur yang masing-masing kinerjanya tidak jauh berbeda yakni minus 6,59 persen dan minus 6,57 persen. Kelima produk reksadana ini tidak lebih baik dibandingkan dengan kinerja Indeks Reksadana Campuran.

NoNama ReksadanaReturn Sebulan
1Narada Campuran 1-57,88%
2MNC Dana Kombinasi -8,61%
3Prospera Balance -8,4%
4TRAM Alpha -6,59%
5Bahana Dana Infrastruktur -6,57%

Reksadana Pendapatan Tetap

Berbeda dengan reksadana saham, reksadana pendapatan tetap menempatkan dana kelolaannya ke efek obligasi pemerintah atau surat utang perusahaan dengan persentase minimal 80 persen dari dana kelolaannya. Begitu juga dengan potensi keuntungannya, reksadana pendapatan relatif lebih stabil dibandingkan reksadana saham. Seringnya reksadana jenis pendapatan tetap menjadi pilihan investor dengan tipe konservatif yang cenderung menghindari risiko tinggi. Sebagai pembanding kinerja produk reksadana pendapatan tetap, Indeks Reksadana Pendapatan Tetap menjadi acuannya.

Jika dilihat dari kinerja Indeks Reksadana Pendapatan Tetap yakni 0,29 persen sebulan, kelima reksadana ini pantas menjadi 5 reksadana pendapatan tetap terbaik di bulan November 2019. Schroder Income Fund yang berada di urutan pertama, mampu memberikan imbal hasil sebesar 1,82 persen sebulan disusul oleh Sucorinvest Bond Fund (0,94%), Reksa Dana Syariah Majoris Sukuk Negara Indonesia (0,94%), Manulife Obligasi Unggulan Kelas A (0,89%), RHB Fixed Income Fund 2 (0,83%).

NoNama ReksadanaReturn Sebulan
1Schroder Income Fund 1,82%
2 Sucorinvest Bond Fund 0,94%
3Reksa Dana Syariah Majoris Sukuk Negara Indonesia 0,94%
4Manulife Obligasi Unggulan Kelas A 0,89%
5RHB Fixed Income Fund 2 0,83%

Selanjutnya Prospera Obligasi Plus (-3,26%), MNC Dana Syariah (-0,53%), Ganesha Abadi (-0,42%), Medali Dua (-0,14%), dan Kehati Lestari (-0,13%) menempati daftar 5 produk reksadana pendapatan tetap bulan November 2019. Berbanding terbalik dengan kinerja Indeks Reksadana Pendapatan Tetap yang memberikan hasil positif 0,29%.

NoNama ReksadanaReturn Sebulan
1Prospera Obligasi Plus -3,26%
2MNC Dana Syariah -0,53%
3Ganesha Abadi -0,42%
4Medali Dua -0,14%
5Kehati Lestari -0,13%

Reksadana Pasar Uang

Di antara jenis-jenis reksadana yang ada, reksadana jenis pasar uang merupakan solusi bagi calon investor yang mau memulai berinvestasi reksadana. Selain berisiko kecil, kinerja produk reksadana pasar uang mampu menghasilkan imbal hasil atau keuntungan yang lebih baik dibandingkan jika ditempatkan ke deposito. Reksadana pasar uang adalah jenis reksadana yang dana kelolaannya akan ditempatkan oleh Manajer Investasi 100 persen ke dalam efek pasar uang seperti surat hutang yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun, contohnya seperti deposito itu sendiri.

Perbedaan mendasar antara reksadana pasar uang dengan deposito yaitu, deposito diterbitkan oleh Bank dan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), berbeda dengan reksadana pasar uang yang merupakan produk investasi yang dikelola oleh Manajer Investasi dan memiliki risiko didalamnya, walaupun sangat minim. Dari sisi likuiditas, reksadana pasar uang dapat diperjualbelikan kapan saja, proses pembelian dan pencairan dana (jual) terhitung cepat, minimal hanya butuh satu hari kerja saja tanpa dikenakan biaya.

Berbeda dengan deposito yang biasanya mengenakan biaya penalti jika nasabah ingin melakukan pencairan dana sebelum tenggat waktu perjanjian. Imbal hasil atau keuntungan yang didapat dari reksadana pasar uang juga lebih menarik, 1-2 persen lebih tinggi dibandingkan ditempatkan ke deposito langsung. Hal ini yang menjadikan reksadana jenis pasar uang menjadi pilihan investor untuk investasi jangka pendek.

Di daftar 5 produk reksadana pasar uang terbaik bulan November, rata-rata memiliki kinerja hampir sama yakni sebesar 0,60 persen. Produk Reksadana Mega Asset Multicash milik Manajer Investasi Mega Asset Management menempati posisi puncak dengan kinerja imbal hasil sebesar 0,65 persen sebulan. Tidak jauh berbeda dengan kinerja Capital Money Market Fund di posisi kedua dengan imbal hasil 0,62 persen. Sucorinvest Money Market Fund diurutan ketiga dengan imbal hasil 0,61 persen, BNI-AM Dana Pasar Uang Kemilau dan Reksa Dana Mega Dana Kas berada diurutan 4 dan 5 dengan imbal hasil masing-masing sebesar 0,6 persen dan 0,58 persen. Kelima produk reksadana tersebut mampu menghasilkan profit lebih baik sebesar 2 kali lipat dibandingkan Indeks Reksadana Pasar Uang.

NoNama ReksadanaReturn Sebulan
1Mega Asset Multicash 0,65%
2Capital Money Market Fund 0,62%
3Sucorinvest Money Market Fund 0,61%
4BNI-AM Dana Pasar Uang Kemilau 0,60%
5Reksa Dana Mega Dana Kas 0,58%

MNC Dana Lancar (0,39%), Emco Barokah Syariah (0,36%), Cipta Dana Kas Syariah (0,35%), Batavia Dana Likuid (0,35%), RHB Rupiah Liquid Fund (0,33%) menempati urutan satu sampai lima daftar produk reksadana pasar uang terendah bulan November 2019.Namun kelima reksadana ini tetap mampu mengungguli kinerja Indeks Reksadana Pasar Uang.

NoNama ReksadanaReturn Sebulan
1MNC Dana Lancar 0,39%
2Emco Barokah Syariah 0,36%
3Cipta Dana Kas Syariah 0,35%
4Batavia Dana Likuid 0,35%
5RHB Rupiah Liquid Fund 0,33%

Dengan adanya pengelompokan jenis reksadana, calon investor dapat menyesuaikan profil risiko dirinya dengan produk reksadana yang ingin dibeli. Semakin besar potensi keuntungan pada jenis reksadana yang dipilih, berbanding lurus dengan tingkat risiko yang dihasilkan. Reksadana juga menjadi pilihan investasi terbaik bagi calon investor yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk mengelola sendiri dananya, karena sudah ada pihak Manajer Investasi yang akan menjembatani tujuan investasi calon investor.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *